Sosial Media Detox Nggak Kalah Menarik Dari Diet

Mendengar kata detox, otak kita pastinya langsung terarah pada puasa atau diet yang berarti menahan memakan makanan tertentu sama sekali atau mengurangi makan makanan tertentu. Namun kini istilah detox tidak hanya dimiliki oleh kesehatan saja. Kata ini mulai luas digunakan masyarakat awam sebagai istilah menahan diri, mengurangi atau hal semacamnya untuk alasan kesehatan mental juga. Istilah yang umum digunakan adalah dopamin detox atau sosial media detox. Namun kali ini kita menggunakan kata detox sosial media.

Sederhananya, detox sosial media berarti seseorang berhenti atau mengurangi mengakses sosial media entah untuk sementara waktu atau selamanya. Ini dilakukan oleh orang-orang dan sudah mulai marak dilakukan oleh orang orang karena munculnya masalah mental serius yang dialami oleh mereka yang mengakses sosial media berlebihan. Misalnya masalah kecanduan sosial media, depresi, menjadi pemalu dan kesepian dan banyak lagi masalah lainnya.

Maka masyarakat mulai sadar akan bahaya terlalu sering mengakses sosial media. Oleh sebab itu muncul gerakan detoks sosial media. Ini juga erat kaitannya dengan detox dopamin. Jadi, saat seseorang mengakses sosial media, otak akan menghasilkan dopamin yang menimbulkan perasaan senang. Akhirnya lama kelamaan menjadi ketagihan. Detox dopamin menolak semua “kenikmatan” yang ada di smartphone sedangkan detox sosial media hanya membatasi pada sosial media.

Bagaimana kondisi mereka yang ikut detox sosial media? Mereka akan mengalami kegelisahan parah! Kondisi awal mereka yang kecanduan pastinya akan merasa sakaw atau nagih yang menyebabkan stress, depresi, kesepian, kesedihan dan emosi negatif lainnya. Emosi negatif ini sejatinya sering muncul, namun otak diberi konten sosial media yang membuatnya menjadi gembira dan terus menagih kegembiraan demi kegembiraan yang akhirnya menjadikan seseorang mengalami kecanduan.

Jadi, jika seseorang baru mencoba lepas dari kecanduan sosial medianya, ia akan merasakan emosi yang luar biasa negatif sebagai gejala sakau karena otak tidak memperoleh kenikmatan yang biasanya diterimanya. Lama kelamaan, ia akan biasa, menjadi normal kembali dan tidak kecanduan.

 

Sumber: Pojok Sosmed